Jumat, 06 Februari 2009

DAMPAK PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP

Penggunaan lahan

Penggunaan lahan merupakan salah satu faktor penentu erosi yang bersifat dinamis. Dalam kurun waktu 30 tahun, Sub DAS Mesaam telah mengalami perubahan penggunan lahan yang cukup drastis. Kondisi ini dapat dilihat dari hasil penafsiran citra selama kurun waktu 30 tahun (1976-2006) dengan menggunakan 4 citra yang mempunyai resolusi spasial dan resolusi temporal yang berbeda, yaitu citra Landsat MSS (1976), Citra Landsat TM 5 (1989), Citra Landsat ETM+ 7 (2000) dan citra ASTER (2006).

Pada tahun 1976, kurang lebih 40% area Sub DAS Mesaam tertutup oleh hutan dan 23.92% merupakan lahan pertanian kering campur. Wilayah penelitian didominasi oleh penggunaan lahan dengan kerapatan vegetasi lebih dari 50%, yang berupa hutan dan semak/belukar. Sedangkan lahan kosong hanya 3.33%. Kondisi ini dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang sedikit yang mana tingkat pemenuhan kebutuhan hidup dasar juga kecil.

Pada tahun 1989, pertanian lahan kering campur mendominasi penggunaan lahan di wilayah penelitian sebesar 53.65% yang diikuti oleh hutan seluas 21%. Dibandingkan dengan tahun 1976, luas area hutan mengalami penurunan, terutama pada hutan sekunder, sedangkan luas penggunaan lahan berupa lahan pertanian kering meningkat. Kondisi ini disebabkan adanya okupasi oleh penduduk yang tinggal di sekitar hutan.

Pada tahun 2000, sebaran luas penggunaan lahan berupa hutan, semak/belukar, lahan pertanian kering campur dan lahan pertanian kering adalah 25%, 13%, 26% dan 10%. Sedangkan pemukiman dan lahan kosong mempunyai luasan sebesar 0,58% dan 0,21%. Perubahan penting terjadi dari penggunaan lahan hutan dan pertanian lahan kering campur ke semak/belukar. Kondisi ini diakibatkan oleh petani yang mengganti semua tanaman kopi menjadi jeruk.

Pada tahun 2006, prosentase luas hutan, semak/belukar, perkebunan dan lahan pertanian kering campur adalah 25%, 17%, 23% dan 19%. Sisanya adalah pemukiman, rumput, lahan pertanian kring dan lahan kosong. Pada tahun ini, hampir semua penggunaan lahan mengalami perubahan luasan. Perubahan penggunaan lahan terbesar terjadi dari semak/belukar dan pertanian lahan kering campur ke perkebunan.

Perubahan Penggunaan Lahan

Sub DAS Mesaam mengalami perubahan penggunaan lahan yang sangat drastis dalam kurun waktu 30 tahun (1976-2006), terutama perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi semak/belukar, perkebunan, pemukiman, lahan kosong dan rumput.

Pada periode 1976-1989, perubahan penggunaan lahan terjadi pada hampir semua tipe penggunaan lahan dengan prosentase lebih dari 90%. Lahan kosong berubah total menjadi tipe penggunaan lahan lain. Hutan mengalami perubahan seluas 47%. Hutan primer tidak mengalami perubahan terlalu luas, karena lokasinya yang terletak di pegunungan dan perbukitan, sehingga sulit dijangkau. Di samping itu, penduduk di wilayah penelitian memiliki kearifan lokal (local wisdom) untuk menjaga hutan. Hal ini juga ditunjang oleh program rehabilitasi lahan dan hutan dari Departemen Kehutanan.

Pada periode 1989-2000, perkebunan, lahan pertanian kering dan rumput berubah total menjadi tipe penggunaan lahan lain. Dibandingkan dengan perubahan penggunaan lahan pada periode 1976-1989, perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi tipe penggunaan lahan lain meningkat, yaitu sebesar 63%. Akibat adanya kebijakan ekonomi dan politik di Indonesia pada waktu itu, perubahan penggunaan lahan terjadi lebih besar dibandingkan pada periode sebelumnya.

Pada periode 2000-2006, perubahan penggunaan lahan terutama terjadi pada lahan kosong, pemukiman, hutan sekunder dan lahan pertanian kering. Perubahan pada hutan primer relatif kecil, hal ini merupakan salah satu indikasi dari keberhasilan Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan yang dilaksanakan oleh Departemen Kehutanan. Sedangkan sebagian besar hutan sekunder berubah menjadi perkebunan dan semak/belukar. Sejak tahun 2004, kualitas jeruk menurun dan petani mengubah tanaman jeruk menjadi kopi. Akibat dari permintaan pasar dan harga kopi yang tinggi, petani mengubah pertanian lahan kering menjadi perkebunan kopi.

Erosi Tanah

Secara umum, area yang mengalami tingkat erosi tinggi adalah di sepanjang sungai dan lembah. Kemiringan lereng yang tinggi, tingkat erodibilitas tanah tinggi dan lahan dengan tutupan vegetasi kurang dari 20% adalah parameter utama yang menyebabkan terjadinya erosi. Kenampakan erosi berupa riil dan gully sering terjadi pada lembah dengan kemiringan lereng yang tinggi. Perbedaan tipe penggunaan lahan juga memberikan perbedaan pada tingkat erosi tanah. Pada jenis tanah dan kemiringan lereng yang sama, hutan memberikan kontribusi pada terjadinya erosi lebih kecil dibandingkan dengan lahan pertanian atau semak/belukar. Perubahan penggunaan lahan, terutama dari perkebunan kopi menjadi perkebunan jeruk dan lahan pertanian kering, seperti, jagung dan sayuran, merupakan faktor yang menyebabkan terjadinya erosi. Struktur pohon dan kanopi tanaman kopi membuat aliran air hujan dapat tertahan dibandingkan dengan pertanian lahan kering dan tanaman jeruk, di samping adanya tanaman pelindung pada tanaman kopi. Air hujan yang langsung jatuh ke tanah dapat menyebabkab erosi lebih besar, dibandingkan dengan air hujan yang turun melalui daun dan batang.

Pada 1976, hampir seluruh wilayah penelitian tertutup oleh hutan, sehingga luas wilayah dengan erosi tingkat tinggi relatif rendah. Sedangkan lahan kosong dan pertanian lahan kering memberikan kontribusi yang tinggi pada terjadinya erosi. Pada tahun 1989, luas wilayah yang mengalami erosi lebih besar dibandingkan pada tahun 1976. Hal ini dikarenakan adanya penurunan luas hutan. Perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi lahan kosong dan perkebunan menyebabkan peningkatan erosi pada kelas erosi tinggi. Peningkatan jumlah penduduk dan pemenuhan kebutuhan dasar hidup penduduk menyebabkan perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi perkebunan dan lahan pertanian kering campur.

Kesimpulan dan Saran

Sub DAS Mesaam terletak pada dataran tinggi dengan didominasi oleh area yang mempunyai kemiringan lereng lebih dari 8%. Intensitas hujan rata-rata bulanan adalah 717,4 mm dan indeks erosivitas tertinggi terjadi pada bulan Januari. Berdasarkan, kondisi fisik wilayah penelitian yang meliputi kemiringan lereng, tipe batuan, erodibilitas tanah, dan indeks erosivitas hujan, Sub DAS Mesaam mempunyai potensi tinggi untuk terjadinya erosi.

Data penginderaan jauh multi temporal dan multi spektral mempunyai banyak kelebihan dalam menghitung perubahan penggunaan lahan. Integrasi teknik penginderaan jauh dan SIG dapat digunakan untuk manajemen dan analisis parameter-parameter erosi dan selanjutnya untuk monitoring dan perencanaan wilayah.

Strategi manajemen aktif yang bertujuan untuk konservasi dan regenerasi hutan harus dilaksanakan secara berkesinambungan untuk mengurangi erosi tanah di wilayah penelitian. Penelitian ini dapat dilanjutkan dengan menggunakan data-data penginderaan jauh yang mempunyai resolusi sepktral dan spasial tinggi untuk mengekstrak parameter-parameter erosi. Berdasarkan data perubahan penggunaan lahan, model penentuan besarnya erosi tanah dapat dikembangkan.

Air Sungai Tercemar, Diare Jadi Langganan

Sebagian ruas jalan di Kampung Bojong Citepus, Kelurahan Cangkuang Wetan, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, mulai mengering, Kamis (27/4). Sebagian lainnya masih berlumpur, bekas banjir yang menggenangi kampung di tepi Sungai Citarum ini seminggu lalu. Masyarakat sibuk mengangkut kembali perabotan rumah dari lantai dua ke lantai satu. Aktivitas ini menjadi pemandangan biasa bagi warga Bojong Citepus hampir setiap tahun. Saat banjir datang, perabotan diangkut ke lantai atas agar tidak hanyut atau rusak akibat luapan air Sungai Citarum.

Selain lumpur dan kesibukan menata kembali rumah, diare juga menjadi "langganan" masyarakat kampung itu usai banjir menyerang. "Sudah enam hari saya tiduran di kasur. Baru hari ini bisa bangun, tetapi berkali-kali masih harus ke kamar kecil," papar Reska (25), warga RT 01/09 Kampung Bojong Citepus. Diare juga menyerang sebagian besar warga Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah. "Diare sudah menjadi langganan di daerah ini. Kalau habis banjir tidak ada yang menderita diare, berarti hebat," kata Aisyah (40), warga RT 01/13 Andir.

Sementara, Hadi (5), warga Kelurahan Andir yang baru duduk di kelas I sekolah dasar, tidak masuk sekolah selama dua hari gara-gara diare. Ibunya membawanya ke puskesmas. Koordinator Survei Pengamatan dan Penyuluhan Kesehatan Lingkungan Puskesmas Baleendah Suhara mengatakan, puskesmas selalu siap melayani para korban banjir dengan pengobatan gratis. "Di sini selalu ada dua petugas jaga selama 24 jam, siap melayani korban banjir," ujar Suhara.

Selain itu, setiap banjir datang, Puskesmas Baleendah menurunkan tim yang terdiri dari lima orang untuk membagikan obat-obatan kepada warga. "Tapi yang paling menolong sebenarnya warga sendiri. Karena sudah terbiasa kebanjiran, mereka tahu apa yang harus dilakukan saat terserang penyakit akibat banjir," katanya. Diare, kata Suhara, adalah penyakit langganan bagi korban banjir. Sebab, air Sungai Citarum banyak mengandung kuman dan bakteri akibat tercemar limbah pabrik yang ada di Dayeuhkolot dan Majalaya. Oleh karena itu, warga tidak diperkenankan mengonsumsi air sungai. Selain obat diare, Puskesmas Baleendah juga menyediakan obat- obatan P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan) di hampir semua RT. (Mohammad Hilmi Faiq)

Risiko Kematian akibat Pemanasan Global

PEMANASAN global bukan hanya merusak bumi. Studi kesehatan menyebutkan temperatur dan tingkat ozon yang tinggi meningkatkan risiko kematian yang disebabkan penyakit jantung dan stroke. Para periset menyatakan pemanasan global bisa meningkatkan jumlah orang yang meninggal karena kasus-kasus kardiovaskular, yakni kasus-kasus kesehatan yang berkaitan dengan gangguan jantung dan pembuluh darah.

Pemimpin riset dari School of Medicine di University of California, Amerika Serikat, Cizao Ren, menegaskan, temperatur dan ozon merupakan dua faktor utama yang menyebabkan kematian akibat kasus kardiovaskular.Ia memperkirakan, masalah itu akan bertambah parah seiring dengan bertambah panasnya bumi. "Meningkatnya temperatur dan polusi udara akan sangat memengaruhi kesehatan penduduk dunia," ujarnya.Tim riset Ren meneliti hampir 100 juta orang yang tinggal di 95 daerah di seluruh Amerika Serikat dari Juni hingga September untuk studi nasional terhadap kematian dan polusi udara. Studi tersebut meneliti kaitan antara kesehatan dan polusi udara sejak 1987 hingga 2000. Dalam kurun waktu tersebut, empat juta orang meninggal dunia akibat serangan jantung dan stroke. Tim Ren membandingkan tingkat kematian itu terhadap perubahan temperatur dalam satu hari. Mereka menyimpulkan, ozon merupakan kaitan utamanya. Semakin tinggi tingkat ozon, semakin besar pula risiko kematian akibat kasus kardiovaskular yang terkait dengan tingginya temperatur.Saat tingkat ozon berada pada level terendah, temperatur meningkat sebesar 10 derajat. Itu berarti jumlah kematian akibat penyakit jantung dan stroke meningkat juga sebanyak 1%. Saat tingkat ozon pada level tertingginya, jumlah kematian akibat penyakit jantung dan stroke meningkat lebih dari 8%.Terkena paparan ozon dalam jumlah tinggi dapat memengaruhi saluran pernafasan dan sistem syaraf. Itu akan menyebabkan orang menjadi rentan terhadap efek dari perubahan temperatur.Pemanasan global akan meningkatkan temperatur dan tingkat polusi karena temperatur yang tinggi akan berakibat tingginya produksi ozon. (Wey/M-2)Sumber:Media Indonesia Online
 

Flatronze © 2008. Template By: SkinCorner